Feel-Good Management: Solusi Untuk Mengatasi Stres di Tempat Kerja

  • 13 June 2018 | 00:00

Stres mungkin adalah satu ketidaknyamanan yang paling banyak dialami di tempat kerja saat ini dan berpotensi untuk merusak kehidupan ratusan juta pekerja di seluruh dunia. Lalu bagaimana cara untuk mengatasinya? Feel-Good management, mungkin dapat menjadi salah satu solusi baru dalam memecahkan permasalahan ini.

Stres: Kendala saat ini
Stres telah menjadi tantangan bagi karyawan dan perusahaan selama beberapa dekade, dan digambarkan oleh laporan PBB pada tahun 1992 sebagai "penyakit abad ke-20." Sayangnya, tidak banyak yang berubah di abad ke-21. Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa 80% karyawan merasa stres di tempat kerja1, dengan hampir setengah dari mereka mengatakan bahwa mereka memerlukan bantuan untuk mengatasinya. Studi lain2 mengungkapkan bahwa 65% karyawan mengatakan bahwa stres di tempat kerja telah menyebabkan mereka kesulitan. Dan jika itu buruk bagi karyawan, efek stres yang merusak dapat memiliki dampak langsung kepada absensi, kecelakaan, turnover karyawan, hingga produktivitas menurun.

Karyawan bahagia lebih produktif
Penyebab stres itu bervariasi, bisa dari jam kerja yang panjang, tidak merasa aman di tempat kerja, kurangnya kesempatan untuk pengembangan karir, upah yang rendah, dan kurangnya pengakuan dari perusahaan. Penelitian American Psychological Association3 menemukan bahwa karyawan yang merasa dihargai secara positif oleh manajer memiliki persentasi kecil untuk merasa stres dan lebih cenderung untuk terlibat aktif dalam pekerjaan mereka serta memiliki kepuasan dalam bekerja.

Studi yang dilakukan oleh Harvard / MIT juga menemukan hasil serupa. Karyawan yang bahagia itu 31% akan lebih produktif, dua kali lebih kecil kemungkinannya untuk sakit, enam kali lebih sedikit untuk absen / tidak masuk dan 55% lebih kreatif4. Studi yang lebih luas juga dilakukan oleh University of Warwick5, yang menemukan bukti yang jelas tentang peningkatan produktivitas dengan karyawan yang lebih bahagia, sementara kepuasan kerja di Google naik 37% setelah berinvestasi lebih banyak dalam bagian dukungan untuk karyawan mereka6.

Berbagai pilihan Feel-Good management
Hubungan antara bagaimana perasaan karyawan dan seberapa efektif mereka di tempat kerja kini semakin disorot oleh semakin dikenalnya Feel-Good management. Penekanannya adalah dengan menemukan cara yang disesuaikan untuk membuat karyawan atau tim merasa bahagia di tempat kerja. Feel-Good management melibatkan pemimpin dalam membangun dan mengorganisir tim atau acara sosial - baik di dalam ataupun di luar tempat kerja - dan memberikan pendampingan pada tingkat individu. Membantu karyawan baru untuk “betah”, mendukung program perubahan, dan membantu karyawan dalam mengatasi stres juga merupakan bagian dari manajemen ini. Pada saat yang sama, pendekatan Feel-Good juga dapat digunakan untuk mendorong orang dalam menentukan pilihan gaya hidup yang positif. Dukungan dari perusahaan dalam menawarkan makanan bergizi, jam kerja yang fleksibel, dan relaksasi dalam bentuk latihan fisik atau latihan yoga / kesadaran dapat juga membantu untuk mencapai tujuan tersebut.

Antusiame yang semakin meluas melatar belakangi banyak perusahaan di seluruh dunia memiliki Manajer Feel-Good atau Chief Happiness Officer - yang didedikasikan semata-mata untuk menciptakan suasana yang positif dan ceria serta mendukung karyawan. Di Perancis, lowongan pekerjaan untuk CHO naik 967% antara tahun 2014 dan 2016, menurut seorang spesialis rekrutmen7. Sementara survei di Australia8 menemukan bahwa 79% responden mendukung posisi ini.
 
Sebagai alternatif, perusahaan dapat mencari bantuan untuk Feel-Good management yang disediakan oleh perusahaan spesialis jasa Feel-Good, yang memiliki portfolio dan testimoni positif dalam meningkatkan pendapatan perusahaan secara signifikan9 (sebagai contoh: WooHoo Inc. di negara Denmark), dan mengalahkan target dengan persentase dua digit10 (sebagai contoh: Feel Good Leadership di negara Inggris). Di Amerika Serika, jasa konsultan Feel-Good management memiliki beragam pilihan jasa yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan individu11.
 
Namun, mempekerjakan seorang “Chief Happiness Officer” atau jasa outsourcing dengan basis projek mungkin tidak cocok untuk semua organisasi dan akan ada banyak inisiatif yang dapat dilakukan oleh manajer yang ada untuk mempromosikan faktor Feel-Good di tempat kerja.

Box Interview

Bagaimana cara memberikan kebahagiaan?
Membuat karyawan merasa nyaman di tempat kerja adalah tugas yang umum bagi Jenn Lim, CEO dan salah satu pendiri Delivering Happiness, sebuah perusahaan yang memberikan pelatihan dan konsultasi dalam kebahagiaan bagi karyawan. Jasa ini didasarkan pada buku dengan penjualan terlaris berjudul "Delivering Happiness" oleh Tony Hsieh, CEO Zappos, yang menjelaskan ilmu di balik perubahaan faktor Feel-Good menjadi bisnis yang lebih sukses.

Apa itu Feel-Good management dan bagaimana hal tersebut bisa meningkatkan kesehatan karyawan?

Feel-Good management fokus untuk memprioritaskan kebahagiaan dan kesejahteraan karyawan sebagai bagian dari budaya tempat kerja. Cara paling substansial yang berkontribusi pada kesehatan karyawan adalah mengurangi stres dan mempromosikan keseimbangan kehidupan kerja yang positif serta memiliki budaya dalam perusahaan dimana karyawan dapat fokus pada diri mereka sendiri, menyalurkan energi positif kepada sesama karyawan, dan cenderung berorientasi kepada pelanggan perusahaan - terlepas organisasi atau perusahaan tersebut bergerak dalam bidang B2C atau B2B. Di Delivering Happingess, kami juga mengintegrasikan kepada tujuan yang lebih tinggi, dimana kami menjadi motivator utama bagi karyawan untuk melakukan yang terbaik.

Bagaimana perusahaan memperkenalkan Feel-Good management kepada karyawannya?
Langkah pertama untuk setiap perubahan adalah penyelarasan dari manajemen atas hingga ke bawah. Keberhasilan Feel-Good management bergantung pada penerimaannya di seluruh tim dan organisasi, mulai dari level eksekutif dan manajer hingga karyawan tingkat pertama. Setelah penerimaan dan penyelarasan, gambaran yang diinformasikan harus sesuai dengan proses implementasinya, sehingga tercipta harapan dan tujuan dari karyawannya. Biasanya, ini adalah langkah yang sulit karena banyak organisasi yang pandai mengatakan apa yang ingin mereka lakukan daripada melakukannya. Setelah penerapan yang sukses, langkah penting selanjutnya adalah mengukur dan membandingkan perubahan berdasarkan pada KPI kesehatan dan keterlibatan karyawan. Ditambah juga investasi dalam mempertahankan budaya ini dari waktu ke waktu - melalui seminar, pelatihan, pengalaman langsung, dan lainnya.

Dapatkah Anda memberikan contoh tahap implementasi untuk karyawan?
Kami mengidentifikasi perilaku karyawan dengan melihat nilai-nilai yang ada pada sebuah perusahaan. Jadi, jika nilai perusahaan adalah transparansi, maka kami akan memikirkan tentang cara yang dapat dilakukan karyawan dalam berinteraksi satu sama lain dengan transparan. Dengan cara itu mereka akan menjalani aktifitas yang sejalan dengan nilai perusahaan mereka, dibandingkan dengan hanya mendikte mereka. Meskipun Anda mungkin secara tidak sadar mengikuti nilai-nilai ini, penting juga dilakukan untuk menciptakan kebiasaan dan praktik di sekitar mereka dalam mendukung Feel-Good management.

Bagaimana Anda membuat karyawan menyadari bahwa pandangan mereka dihargai dan dipahami?

Hal tersebut datang sebagai bagian dari perubahan budaya. Sebagian besar organisasi memiliki karyawan yang merasa mereka tidak didengar. Jika Anda meluangkan waktu untuk mendengarkan saran dan masukan dari karyawan tentang peran dan budaya mereka, maka itu akan membuka peluang bagi Anda untuk meningkat. Anda dapat melakukan survei atau percakapan sehari-hari sebagai proses aktif dalam mendengarkan pendapat karyawan. Namun apa yang Anda lakukan dengan apa yang Anda pelajari benar-benar memberi tahu karyawan Anda jika Anda mendengarkan atau tidak.

Apakah ini relevan untuk semua bisnis, tidak peduli ukuran, sektor, atau negara mereka?

Kebahagiaan dan kesehatan di tempat kerja sangat penting untuk semua bisnis, karena keduanya memiliki pengaruh pada produktivitas, turnover, dan biaya asuransi kesehatan karyawan. Pada tahun 2016, stres di tempat kerja diperkirakan menghabiskan biaya $ 300 miliar setiap tahun. Berapa pun ukuran organisasi, potensi yang hilang dapat merugikan perusahaan. Klien juga mengakui bahwa jasa kesejahteraan dan keterlibatan karyawan membutuhkan budaya yang berkelanjutan.

Sumber:
1. www.stress.org
2. www.stress.org
3. www.apa.org
4. hbr.org
5. www.journals.uchicago.edu
6. warwick.ac.uk
7. www.leparisien.fr
8. www.jll.com.au
9. woohooinc.com
10. www.feelgoodleadership.co.uk
11. deliveringhappiness.com

Rekomendasi

Komentar

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan, mandatory field ditandai dengan *